Jubir PA : Panglima TNI Terkesan Paranoid Terhadap Partai Aceh.

Syafrial
Nurzahri : Jubir Partai Aceh.

Acehglobal.com – Banda Aceh.

Juru Bicara (Jubir) Partai Aceh Nurzahri merasa aneh pernyataan panglima TNI Agus Subiyanto di depan Komisi I DPR RI yang mengatakan bahwa Partai lokal di Aceh berpotensi menimbulkan konflik karena merupakan wadah tempat berkumpulnya mantan kombatan GAM.

Menanggapi pernyataan Panglima TNI tersebut Nurzahri melalui rilisnya yang diterima media ini, Jumat (22/3/2024) mengatakan bahwa, jelas sekali pernyataan Panglima TNI itu jelas sekali tendensiusnya yang  mengarah kepada Partai Aceh sebagai lokal pemenang Pemilu 2024 di Provinsi Aceh.

Pernyataan Panglima TNI itu kata Nurzahri telah menunjukkan ketidak fahaman Panglima TNI juga dangkalnya pemahaman seorang jenderal bintang empat terkait dengan permasalahan hukum dan politik yang ada di Aceh.

“Kami sangat menyayangkan pernyataan ini di keluarkan persis setelah penetapan pemilu oleh KPU dimana bahkan kondisi keamanan di Aceh sangat kondusif bila dibandingkan dengan kondisi Jakarta yang sampai saat ini masih di gempur oleh gelombang protes terkait dengan pengumuman hasil pemilu,” ungkap Nurzahri.

Nurzahri berharap agar sosok Agus Subiyanto selaku panglima TNI saat ini untuk meralat pernyataan tersebut dan belajar serta menelaah kembali perkembangan politik di Aceh,” tegasnya.

Lebih lanjut Nurzahri mengatakan,  panglima TNI perlu mengetahui bahwa Partai Aceh adalah satu-satunya wadah GAM dalam menyalurkan aspirasi Politik setelah menguburkan impian merdeka dari NKRI.

Pernyataan Panglima TNI Agus Subianto Subisaat didepan Komisi I DPR-RI Kamis (21/3/2024) di Jakarta, sumber:kompas.com.

“Kami telah ikhlas menerima perdamaian Helsinki untuk mewujudkan kesejahteraan Aceh di bawah NKRI dan komitmen ini sudah kami tunjukkan semenjak pilkada 2006 dimana proses pilkada berjalan lancar, walaupun ada kandidat pesaing lain dari Partai Nasional,” ujar Nurzahri.

Baca juga   BSI kibarkan Bendera Merah Putih di Dasar Laut Pulau Rubiah.

Menurutnya, proses pilkada dan pemilu di Aceh telah menunjukkan bagaimana cerdasnya GAM dalam berpolitik sehingga bisa mendominasi perpolitikan lokal di Aceh yang berjalan secara aman dan kondusif bila di bandingkan dengan pilkada atau pemilu di daerah lainnya di Provinsi yang ada di indonesia.

” Jika pun ada sedikit riak pada tahun 2011-2012, hal ini lebih di sebabkan karena polemik aturan antara Aceh dan Pusat, bukan konflik antar kandidat dan bahkan ketika Partai Aceh kalah pada pilkada 2019, namun kami tetap menerima hasil pilkada tersebut setelah menempuh cara-cara yang di benarkan oleh konstitusi, jangan hanya mengalihkan isu atas penolakan hasil pilpres,” kata mantan anggota DPRA ini.

Seharusnya kata Nurzahri lagi, kondisi itu telah bisa membuktikan bahwa periode 15 tahun Partai Aceh berpartisipasi dalam perpolitikan di Indonesia yang telah menunjukkan bagaimana ketaatan Partai Aceh  terhadap konstitusi.

Seharusnya Panglima TNI juga adil dalam melihat seluruh Partai yang ada di indonesia baik lokal maupun Nasional, karena keduanya dilindungi oleh konstitusi dan aturan yang sah di negara ini.

Bahkan pihaknya menantang Panglima TNI yang telah mengeluarkan pernyataan tendensius yang sama terhadap Partai-Partai Nasional yang kader-kadernya ada yang terlibat dengan terorisme dan jaringan- jaringan terlarang di indonesia.

Jika berani kata Nurzahri,  panglima TNI bisa mengeluarkan pernyataan yang sama terhadap kandidat Presiden yang nyata-nyata tidak menerima hasil pilpres yang telah ditetapkan oleh KPU atau jangan-jangan, pernyataan panglima TNI ini hanya sekedar mengalihkan isu terkait dengan penolakan hasil pilpres, ujar Nurzahri. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *