Acehglobal.com – Banda Aceh.
Dunia pertukangan di Aceh selama ini berjalan apa adanya, namun kini tuntutan zaman tidak lagi bisa ditawar. Tukang tidak cukup hanya memegang palu dan paku, tetapi wajib memiliki kompetensi, sertifikasi serta daya saing agar tidak kalah dalam menghadapi derasnya arus pembangunan dan persaingan global.
Menyadari hal tersebut, Persatuan Tukang Aceh (PTA) bersama mitra strategis menghadirkan Diskusi Publik pada Rabu 10 September 2025 di gedung Landmark BSI di Banda Aceh dengan tema, “Optimalisasi Pertukangan Aceh untuk Meningkatkan Kompetensi dan Daya Saing Tukang dalam Menghadapi Tantangan dan Peluang”.
Diskusi yang dipandu oleh Moderator Abdul Qudus, S.H menghadirkan para Narasumber yang kompeten diantaranya Ir H M Nasir Djamil (Anggota DPR RI Fraksi PKS), H Irmawan, S.Sos., M.M (Anggota DPR RI Fraksi PKB), Indra Suhada, S.T., M.T (Kepala BJKW Wilayah I Banda Aceh) , Heri Yugiantoro, S.T., M.T (Kepala BPJN Aceh), Teuku Abdul Hannan Pemerhati Pengadaan Barang dan Jasa.
Menurut Ketua Dewan Penasehat PTA Drs Isa Alima dalam keterangan Kamis (28/8/2025) mengatakan, Selama ini tukang Aceh kerap dipandang sebelah mata, padahal merekalah ujung tombak pembangunan infrastruktur.
Sayangnya, masih banyak tukang lokal yang kalah bersaing dengan tenaga dari luar daerah karena lemahnya sertifikasi, standar mutu, dan keterampilan. Pertanyaan besar pun muncul: mengapa proyek-proyek besar di Aceh masih banyak dikerjakan oleh tukang dari luar.
Forum ini berusaha menjawab keresahan itu dengan solusi konkret dimana tukang Aceh harus dibekali sertifikasi resmi agar dapat diprioritaskan dalam setiap proyek pembangunan.
“Diskusi publik ini harus memberi hasil positif bagi para tukang Aceh agar mampu bersaing, sekaligus memiliki sertifikasi pertukangan sesuai bidangnya masing-masing.
Kami juga berharap agar pemangku kepentingan dapat memprioritaskan tukang lokal yang sudah bersertifikat, sehingga mereka tidak lagi tersisih di tanah sendiri,” tega Isa Alima.
“Kalau bukan tukang Aceh yang membangun Aceh, lalu siapa lagi”.
Jangan sampai negeri ini dibangun dengan tangan orang luar, sementara anak negeri hanya berdiri di pinggir jalan hanya sekedar menyaksikan, ujar Isa Alima.(**)