Acehglobal.com – Takengon.
Di tengah derasnya arus sungai dan medan yang terjal, semangat gotong royong antara prajurit TNI dan masyarakat tak sedikit pun surut. Kamis pagi (9/1/2026), ratusan warga bersama
Personel TNI Koramil 09/Ketol, personel Yon TP 854/DK serta Personel Yon Zipur 6/DS bersama warga bergotong royong bangun jembatan darurat dj Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Kamis (8/1/2016)
Kegiatan tersebut dimana TNI bersama masyarakat saling bahu-membahu mengangkat berjenis kayu balok dengan untuk mengembalikan akses penghubung kehidupan bagi masyarakat di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Pembangunan tersebut bukan hanya sekadar aktivitas pembangunan fisik semata, melainkan potret nyata di tengah keterbatasan material jenis kayu-kayu balok dipanggul dengan melewati arus sungai yang deras, guna untuk memulihkan akses vital masyarakat yang selama ini terputus.
Pembangunan jembatan darurat gantung di Desa Burlah hingga kini terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jembatan ini menjadi urat nadi penghubung ruas jalan antar desa, mulai dari Desa Kala Ketol, Desa Burlah, Desa Kekuyang, Desa Buge Ara, hingga Desa Bintang Pepara.
Terputusnya akses ini sangat menyulitkan aktivitas masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, maupun mobilitas sehari-hari.
Pada tahap pekerjaan terbaru, fokus kegiatan diarahkan pada pengambilan kayu balok (glogor) yang akan digunakan sebagai bagian utama struktur jembatan.
Proses pengambilan dilakukan secara manual karena kondisi medan di lokasi pengambilan kayu yang curam dan terjal, sehingga tidak memungkinkan penggunaan alat berat. Situasi ini menuntut tenaga ekstra, kekompakan, serta tingkat kehati-hatian yang tinggi demi keselamatan seluruh personel dan warga yang terlibat.
Pengerjaan jembatan darurat tersebut melibatkan 6 personel Koramil 09/Ketol, 20 personel Yon TP 854/DK serta 31 Personel Yon Zipur 6/DS. Selain itu, sekitar 150 warga masyarakat setempat turut ambil bagian secara sukarela, menunjukkan kuatnya sinergi antara aparat TNI dan rakyat.
Untuk mendukung kelancaran pembangunan, berbagai material telah berhasil dimobilisasi ke lokasi pembangunan jembatan. Seluruh material diangkut secara bertahap menyesuaikan kondisi medan dan akses menuju lokasi.
Meski dihadapkan pada tantangan alam yang tidak ringan serta keterbatasan sarana dan prasarana, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam setiap tahapan pekerjaan.
Setiap kayu yang dipanggul, setiap langkah yang diayunkan di dalam arus sungai, menjadi bukti bahwa jembatan ini dibangun bukan hanya dari besi dan semen, melainkan juga dari harapan, kepedulian, dan rasa saling memiliki.
Apabila jembatan darurat gantung ini rampung, masyarakat Desa Burlah dan desa-desa sekitarnya akan kembali merasakan kemudahan akses antarwilayah.
Lebih dari itu, keberadaan jembatan ini diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian, memperlancar aktivitas pendidikan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Jembatan tersebut juga menjadi simbol bahwa dalam situasi sulit sekalipun, negara hadir dan berdiri bersama rakyatnya.(**)